Allah berfirman, "dan bersungguh-sungguhlah kepada Allah dengan sebenar-benarnya kesungguhan." (Al Hajj [22] ayat 78)
Allah juga berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa kepada-Nya." (Ali Imron [3] ayat 102)
Kedua ayat suci nan agung ini adalah perintah Allah kepada kita semua agar senantiasa berupaya mengoptimalkan ibadah kita kepada Allah. Juga perintah agar kita mempersembahkan ibadah terbaik yang kita mampu kepada Allah sesuai tuntunan-Nya. Allah menginginkan kita bersungguh-sungguh dalam bertaqwa kepada Allah.
Allah juga berfirman dalam sebuah hadits qudsi, "Wahai anak Adam, optimalkan ibadahmu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi dadamu dengan kekayaan/kecukupan dan Aku tutupi kefakiranmu. Jika engkau tidak melakukan itu, Aku penuhi dadamu (dalam riwayat lain: tanganmu) dengan kesibukan dan tidak akan Aku tutupi kefakiranmu." (Shahih. HR. Ibnu Majah)
Allah menginginkan manusia optimal dalam beribadah kepada-Nya dan tidak cinta dunia. Allah menjanjikan, barangsiapa mau beribadah kepada Allah secara optimal, maka Allah berikan kepadanya kekayaan jiwa dan fisik, dan Allah jauhkan dia dari kefakiran.
Akan tetapi sebaliknya, barangsiapa yang tidak optimal dalam beribadah kepada Allah, maka hidupnya akan penuh dengan kesibukan yang tiada hasil. Kefakiran akan selalu meliputi hidupnya. Percayalah akan janji dan ancaman Allah ini.
Jika kita mau jujur, kebiasaan kita enggan beribadah kepada Allah secara optimal. Kita berdalih, kita akan menjadi fakir/miskin kalau kita optimal beribadah kepada Allah. Kita enggan untuk itu dengan dalih kita hendak bekerja memenuhi kebutuhan hidup. Atau ada di antara kita yang mengatakan, "Tak usahlah kita serius-serius amat beribadah. Beribadah tidak bisa membuat kebutuhan hidup kita tercukupi, malah bisa jadi kita akan miskin kalau hidup cuma ibadah saja."
Padahal, dalih yang kita buat itu adalah dalih yang dihembuskan setan ke dalam jiwa kita, agar kita malas mengoptimalkan ibadah kepada Allah. Kita ingat, dalam Al Qur'an, Allah telah menegaskan bahwa setan itu senantiasa menakut-nakuti manusia dengan kefakiran. Tujuannya satu, agar manusia tidak optimal dalam beribadah kepada Allah dan bahkan tidak beribadah sama sekali.
Hadits qudsi ini adalah bantahan terhadap hembusan dan bisikan jahat setan itu. Kalau kita optimaldalam beribadah kepada Allah, kita malah menjadi kaya raya di dunia dan akhirat. Kita tidak akan pernah fakir. Jiwa kita akan kaya, dan seluruh kebutuhan hidup kita akan terpenuhi.
Mulai sekarang jangan lagi ragu akan janji Allah ini. Jangan lagi malas bersungguh-sungguh beribadah. Terlebih lagi dengan dalih untuk memenuhi kebutuhan hidup. Jangan lagi tidak mengoptimalkan ibadah karena takut kalau optimal dalam beribadah kepada Allah, waktu untuk bekerja malah sedikit atau malah menjadi fakir karena sedikit kesempatan untuk bekerja.
Ingat dan hujamkan dalam qalbu, Allah Maha Kaya. Allah-lah pemilik bumi dan langit dan segala apa yang ada di dalamnya. Allah memerintahkan kepada kita agar optimal dalam beribadah kepada-Nya. Maka, beribadahlah kepada Allah secara optimal. Jangan risaukan riski kita, karena Allah Maha Kaya, Allah-lah yang memberi kita riski. Jika kita taat maka Allah berikan kepada kita riski dari jalan yang tak terduga-duga. "Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya riski dari arah yang tidak disangka-sangkanya." (Ath Thalaq [65] ayat 2-3)
Ingatlah, Allah meciptakan kita hanya untuk beribadah kepada-Nya. Kita tidak punyatugas (kewajiban) lain dalam hidup kita yang sekali ini selain beribadah kepada Allah. Maka optimalkan ibadah kita kepada Allah.
Adapun kalau kita butuh untuk kelangsungan hidup, maka kita diperbolehkan berusaha mendapatkan apa yang kita butuhkan agar hidup kita terus berlangsung. Dan apapun yang kita lakukan selain untuk menjaga keberlangsungan hidup harus bertujuan agar kita bisa beribadah kepada Allah, yang merupakan tugas utama kita.
Nabi Muhammad shollallahu 'alaihi wa sallam mengingatkan, "Barangsiapa dunia menjadi tujuan akhirnya, Allah jadikan semua urusannya tercerai-cerai, kefakiran selalu ada di depan matanya, dan tidak diberikan kepadanya bagian dari dunia kecuali sebatas apa yang telah ditetapkan Allah baginya. Sedangkan barangsiapa akhirat menjadi tujuan akhirnya, Allah himpun semua urusannya, kekayaan ada di dalam hatinya, dan dunia mendatanginya begitu saja dengan tertunduk." (Shahih. Ash-Shahihah no. 949, 950)
Dalam riwayat lain yang senada, "Barangsiapa akhirat menjadi tujuan akhirnya, Allah jadikan kekayaan dalam hatinya, Allah himpun seluruh perkaranya, dan dunia mendatanginya begitu saja dengan tertunduk. Sedangkan barangsiapa dunia menjadi tujuan akhirnya, Allah jadikan kefakiran di depan matanya, Allah cerai-beraikan seluruh perkaranya, dan tidak ada bagian dari dunia yang mendatanginya kecuali sebatas apa yang ditakdirkan Allah baginya." (Shahih. Shahih Al-Jami' no. 6510)
----------------------------------
Referensi:
El-Rasheed, Brilly. Golden Manners. --Solo: Samudera, 2014.

0 comments